Cara Membuat Disclaimer Blog Kesehatan & Keuangan: Panduan Hukum Lengkap
Dalam dunia digital, konten yang berkaitan dengan kesehatan dan keuangan masuk ke dalam kategori YMYL (Your Money or Your Life). Ini adalah istilah yang digunakan oleh mesin pencari seperti Google untuk mengklasifikasikan konten yang dapat berdampak signifikan pada kebahagiaan, kesehatan, stabilitas keuangan, atau keselamatan pembaca di masa depan. Sebagai pemilik blog atau praktisi hukum yang memberikan edukasi, Anda memikul tanggung jawab hukum yang besar. Tanpa batasan tanggung jawab yang jelas, Anda berisiko menghadapi gugatan perdata atau pidana jika pembaca mengalami kerugian setelah mengikuti saran di blog Anda.
Mengapa Disclaimer Itu Wajib Secara Hukum di Indonesia?
Di Indonesia, penyebaran informasi secara elektronik diatur dalam Undang-Undang No. 1 tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas UU No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Meskipun tidak ada pasal spesifik yang mewajibkan kata 'Disclaimer', namun secara hukum, disclaimer berfungsi sebagai alat pembuktian bahwa Anda tidak bermaksud menyesatkan pembaca (Pasal 28 UU ITE tentang berita bohong dan menyesatkan).
Selain itu, dalam hukum perdata (KUHPerdata Pasal 1365), seseorang yang melakukan perbuatan melawan hukum yang membawa kerugian kepada orang lain, wajib mengganti kerugian tersebut. Disclaimer berfungsi untuk membatasi ruang lingkup 'tanggung jawab' Anda dengan menegaskan bahwa hubungan antara penulis dan pembaca bukanlah hubungan profesional-klien (seperti dokter-pasien atau konsultan keuangan-nasabah).
Langkah 1: Identifikasi Risiko Spesifik Niche Anda
Sebelum menulis, Anda harus memetakan risiko apa yang paling mungkin terjadi. Berikut adalah perbedaannya:
Blog Kesehatan: Risiko diagnosis mandiri yang salah, keterlambatan mencari bantuan medis profesional, atau reaksi alergi terhadap rekomendasi produk.
Blog Keuangan: Risiko kerugian modal, investasi bodong, kegagalan perencanaan pajak, atau kebangkrutan akibat mengikuti strategi trading.
Langkah 2: Menyusun Klausul Utama untuk Blog Kesehatan
Jika Anda mengelola blog kesehatan, pastikan disclaimer Anda mengandung poin-poin imperatif berikut ini:
Hanya untuk Tujuan Edukasi: Tegaskan bahwa konten bukan merupakan saran medis profesional, diagnosis, atau perawatan.
Bukan Hubungan Dokter-Pasien: Nyatakan bahwa membaca blog ini tidak menciptakan hubungan hukum antara Anda dan pembaca.
Konsultasi Profesional: Perintahkan pembaca untuk selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengubah regimen kesehatan mereka.
Contoh Kalimat: "Informasi di situs ini disediakan 'apa adanya' dan bertujuan untuk edukasi umum saja. Jangan pernah mengabaikan saran medis profesional karena sesuatu yang Anda baca di sini."
Langkah 3: Menyusun Klausul Utama untuk Blog Keuangan
Untuk blog keuangan, fokus utama adalah pada risiko pasar dan tanggung jawab pengambilan keputusan.
Bukan Saran Investasi: Nyatakan bahwa Anda bukan penasihat keuangan berlisensi (jika memang tidak memilikinya).
High Risk Warning: Ingatkan bahwa setiap investasi memiliki risiko kehilangan modal.
Akurasi Data: Beri tahu pembaca bahwa data pasar bisa berubah sewaktu-waktu dan informasi mungkin menjadi usang.
Langkah 4: Menambahkan Klausul 'As-Is' dan Batasan Kewajiban
Dalam bahasa hukum, klausul 'As-Is' (Apa Adanya) berarti Anda tidak memberikan jaminan dalam bentuk apa pun, baik tersurat maupun tersirat, mengenai kelengkapan, keakuratan, atau keandalan konten. Ini adalah pertahanan pertama Anda di pengadilan.
Tambahkan kalimat ini: "Dalam keadaan apa pun, [Nama Blog/Perusahaan] tidak bertanggung jawab atas kerugian atau kerusakan, termasuk namun tidak terbatas pada, kerugian tidak langsung atau konsekuensial, yang timbul dari penggunaan situs web ini."
Langkah 5: Penempatan Disclaimer yang Strategis
Disclaimer yang tersembunyi tidak akan membantu Anda di mata hukum. Berikut adalah cara menempatkannya secara efektif:
Halaman Khusus: Buat halaman statis bernama 'Disclaimer' atau 'Penyangkalan' yang dapat diakses dari menu footer.
Inline Disclaimer: Untuk artikel yang sangat berisiko (misalnya: 'Cara Mengobati Kanker dengan Herbal' atau 'Saham Gorengan untuk Besok'), letakkan disclaimer singkat di awal artikel dengan warna teks yang sedikit berbeda atau dalam kotak peringatan.
Pop-up atau Sticky Bar: Untuk blog keuangan yang memberikan sinyal trading, pertimbangkan untuk menggunakan sticky bar di bagian bawah layar.
Visualisasi Alur Pembuatan Disclaimer
[Diagram Alur: Audit Konten -> Identifikasi Risiko YMYL -> Penulisan Klausul Spesifik -> Review Hukum -> Publikasi & Penempatan]
Studi Kasus: Pentingnya Disclaimer yang Jelas
Bayangkan seorang blogger keuangan merekomendasikan sebuah aset kripto tanpa disclaimer risiko. Ketika aset tersebut nilainya jatuh 90%, pembaca yang merasa dirugikan dapat melaporkan blogger tersebut atas dugaan penipuan atau pemberian nasihat investasi tanpa izin (melanggar aturan OJK). Namun, jika blogger tersebut memiliki disclaimer yang menyatakan bahwa 'keputusan investasi sepenuhnya di tangan pembaca dan penulis tidak bertanggung jawab atas kerugian finansial', posisi hukum blogger tersebut akan jauh lebih kuat di hadapan penyidik.
Kesimpulan dan Saran Hukum
Membuat disclaimer bukan sekadar formalitas SEO, melainkan perisai hukum bagi Anda. Pastikan disclaimer Anda ditulis dalam Bahasa Indonesia yang baku dan mudah dipahami sesuai dengan konteks audiens Anda. Jika blog Anda memiliki trafik yang tinggi dan memberikan dampak finansial atau kesehatan yang besar, sangat disarankan untuk melakukan review dokumen hukum Anda kepada konsultan hukum profesional.
Ingat: Disclaimer tidak memberikan kekebalan hukum absolut jika Anda terbukti melakukan kesengajaan atau kelalaian berat, namun ia berfungsi memitigasi risiko secara signifikan.
A version of this article appears in the Klaussa Digital Edition. Klaussa is committed to providing accurate legal insights. Portions of this content may have been assisted by AI.