Back
KLAUSSA JOURNAL

Cara Menangani Somasi Pelanggaran Hak Cipta: Panduan Strategis dan Langkah Hukum Komprehensif

By sluracc
January 19, 2026
#Hak Cipta#Somasi#Hukum Kekayaan Intelektual#UU No 28 Tahun 2014#Panduan Hukum#Litigasi#Penyelesaian Sengketa#Konsultan Hukum

Menerima surat teguran atau somasi terkait dugaan pelanggaran hak cipta sering kali menjadi momen yang menegangkan bagi pemilik bisnis, konten kreator, maupun perusahaan rintisan. Di era digital yang serba cepat ini, batas antara penggunaan konten yang sah dan pelanggaran hak kekayaan intelektual (HKI) menjadi sangat tipis. Namun, sebagai penasihat hukum, kami menekankan bahwa somasi bukanlah akhir dari segalanya; melainkan sebuah undangan untuk melakukan klarifikasi dan penyelesaian sengketa secara profesional.

Memahami Esensi Somasi dalam Konteks Hak Cipta

Somasi adalah peringatan atau teguran hukum yang diberikan oleh pemegang hak cipta (atau kuasanya) kepada pihak lain yang diduga telah melakukan pelanggaran. Tujuannya adalah untuk memberi kesempatan kepada terduga pelanggar guna memenuhi kewajiban atau menghentikan perbuatan tertentu sebelum kasus tersebut dibawa ke jalur hukum yang lebih formal, baik perdata maupun pidana.

Di Indonesia, landasan utama mengenai hal ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (UU Hak Cipta). Hak cipta sendiri merupakan hak eksklusif yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Langkah 1: Tetap Tenang dan Lakukan Audit Internal

Kesalahan fatal yang sering dilakukan adalah mengabaikan somasi atau meresponsnya secara emosional. Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah melakukan audit internal secara mendalam terhadap objek yang dipermasalahkan. Hal ini mencakup:

  • Identifikasi Konten: Apakah benar perusahaan Anda menggunakan gambar, musik, perangkat lunak, atau tulisan yang disebutkan dalam somasi?

  • Verifikasi Lisensi: Periksa kembali arsip Anda. Apakah ada bukti pembelian lisensi, invoice, atau perjanjian penggunaan yang sah?

  • Jangka Waktu Penggunaan: Sejak kapan konten tersebut digunakan dan di platform mana saja?

Langkah 2: Menilai Validitas Somasi dan Legal Standing Pengirim

Tidak semua somasi memiliki dasar hukum yang kuat. Anda perlu memverifikasi apakah pihak yang mengirimkan somasi benar-benar memiliki 'legal standing' atau kedudukan hukum sebagai pemegang hak cipta atau kuasa hukum yang sah. Dalam UU Hak Cipta, hak ekonomi dapat dialihkan, sehingga Anda perlu memastikan bahwa pengirim adalah pemilik hak yang saat ini terdaftar atau diakui.

Perhatikan juga apakah ciptaan tersebut memang dilindungi hak cipta. Misalnya, ide mentah, data fakta, atau prosedur operasional standar tertentu sering kali tidak dapat diklaim sebagai hak cipta kecuali telah memenuhi unsur orisinalitas dan diwujudkan dalam bentuk nyata.

Langkah 3: Menganalisis Doktrin Penggunaan Wajar (Fair Use)

Dalam hukum Indonesia, terdapat pengecualian hak cipta yang diatur dalam Pasal 43 hingga Pasal 51 UU No. 28/2014. Penggunaan ciptaan tidak dianggap sebagai pelanggaran jika ditujukan untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, laporan berita, atau kritik/tinjauan selama tidak merugikan kepentingan yang wajar dari pencipta.

Contoh Kasus: Jika Anda seorang pendidik yang menggunakan potongan gambar dari sebuah buku untuk materi presentasi di kelas nirlaba, Anda mungkin memiliki argumen 'Fair Use'. Namun, jika gambar tersebut digunakan untuk kampanye iklan komersial tanpa izin, argumen ini akan sulit dipertahankan.

Langkah 4: Menentukan Strategi Respons

Setelah berkonsultasi dengan ahli hukum, Anda memiliki tiga jalur utama dalam merespons somasi:

  1. Melakukan Penyanggahan (Denial): Jika hasil audit menunjukkan bahwa Anda memiliki lisensi sah atau tuduhan tersebut keliru, sampaikan jawaban somasi dengan melampirkan bukti-bukti pendukung yang kuat.

  2. Negosiasi dan Mediasi (Settlement): Jika pelanggaran memang terjadi secara tidak sengaja, langkah terbaik adalah mengakui secara profesional dan menawarkan penyelesaian damai. Hal ini bisa berupa pembayaran royalti yang tertunda, pembelian lisensi secara retroaktif, atau penghapusan konten (takedown).

  3. Gugatan Balik: Dalam kasus di mana somasi dianggap sebagai bentuk intimidasi tanpa dasar (copyright trolling), Anda dapat mempertimbangkan langkah hukum balik untuk melindungi reputasi bisnis Anda.

Pentingnya Mediasi dalam Sengketa Hak Cipta

Perlu dicatat bahwa Pasal 95 UU Hak Cipta mewajibkan penyelesaian sengketa melalui mediasi sebelum menempuh jalur tuntutan pidana. Pemerintah Indonesia mendorong penyelesaian secara perdata atau melalui alternatif penyelesaian sengketa (ADR). Hal ini bertujuan untuk mencapai solusi 'win-win' dan menghindari beban biaya litigasi yang tinggi di Pengadilan Niaga.

Skenario Hipotesis: Pelanggaran Font Digital

Bayangkan sebuah UMKM menggunakan font 'X' untuk logo mereka yang diunduh dari situs gratis. Ternyata, font tersebut hanya gratis untuk penggunaan personal, bukan komersial. Pemilik font mengirimkan somasi menuntut ganti rugi sebesar Rp 500 juta. Dalam situasi ini, penasihat hukum akan menyarankan UMKM tersebut untuk:

  • Segera menghentikan penggunaan font tersebut.

  • Menghitung nilai komersial yang sebenarnya dari lisensi tersebut (biasanya jauh di bawah angka tuntutan).

  • Melakukan negosiasi berdasarkan itikad baik untuk membayar biaya lisensi komersial yang wajar ditambah denda administratif yang masuk akal.

Risiko Pengabaian Somasi

Jika Anda memilih untuk mengabaikan somasi yang valid, risiko hukumnya cukup berat. Berdasarkan UU Hak Cipta, pelanggaran hak ekonomi untuk penggunaan komersial dapat diancam dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 1.000.000.000 (satu miliar rupiah). Selain itu, pemegang hak cipta dapat mengajukan gugatan ganti rugi ke Pengadilan Niaga yang dapat mengganggu operasional dan reputasi bisnis Anda secara signifikan.

Kesimpulan: Bertindak Cerdas dan Proaktif

Menangani somasi hak cipta memerlukan kombinasi antara ketelitian teknis, pemahaman hukum yang mendalam, dan kemampuan negosiasi yang taktis. Jangan biarkan ketakutan menghalangi Anda untuk mengambil langkah yang tepat. Segera hubungi konsultan hukum atau advokat spesialis HKI untuk mendapatkan perlindungan hukum yang maksimal.

Sebagai langkah preventif di masa depan, pastikan setiap aset digital yang Anda gunakan memiliki dokumentasi lisensi yang jelas dan lakukan edukasi rutin kepada tim kreatif Anda mengenai batasan-batasan dalam penggunaan karya milik orang lain.

A version of this article appears in the Klaussa Digital Edition. Klaussa is committed to providing accurate legal insights. Portions of this content may have been assisted by AI.